Saturday, 27 September 2014

A Man of Leisure No. 6 #JakartaReposeProject


Waktu luang merupakan waktu buat diri lo sendiri merupakan pendapat Sebastian, mahasiswa Universitas Indonesia. Setiap harinya ia selalu pergi ke tempat gym pada saat tidak ada jadwal kuliah  atau selesai jam kampus. Walaupun waktu yang dimilikinya sebagai mahasiswa tidak banyak karena kesibukan-kesibukannya seperti mengerjakan tugas kampus aktif di kegiatan kampus tidak membuatnya untuk meninggalkan hobbinya tersebut. "Gue tuh dari kecil emang udah suka olah raga, jadi kalo sehari enggak ada olah raganya tuh jadi kayak ada yang kurang" ceritanya. Baginya dengan nge-gym tidak hanya menyegarkan badannya saja tapi juga menyegarkan fikirannya dari kegiatan-kegiatan kampus yang baginya harus dikurangi.

Bagi pria berumur 21tahun ini, tidak suka suasana yang bising dan ramai. Sehingga ia tidak begitu menyukai Mal. "Gue lebih prefer tempat yang sepi, jadi bisa gue abisin buat diri gue sendiri ya contohnya tempat gym". Atas alasan itulah, ia selalu mengunjungi tempat gym yang berada di luar Mal. Begitu juga pada saat ia sedang menghabiskan waktu luangnya dengan teman-temannya, ia lebih suka menghabiskannya di Cafe atau Bar. "Kalo ketemu temen ngapain sih? Palingan cuman ngobrol, makan minum, udah. Itu aja palingan kegiatannya" jelasnya.

Menurut pria yang bertempat tinggal di Jakarta Pusat ini, Jarak dari rumahnya ke kampus cukup jauh. Ditambah lagi dengan kemacetan yang ada di Ibu Kota Jakarta menambah waktu yang harus ditempuhnya semakin lama. "Sekarang dimana-mana macet. Ya orang jakarta ngabisin waktunya kalo enggak di jalan ya di Mal" pendapatnya. Karena kemacetan tersebutlah yang membuat orang Jakarta menghabiskan waktu luangnya di Mal karena apa yang mereka perlukan, inginkan, ada semua di Mal. "Hiburannya ya cuman Mal" kata Sebastian.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi ini baru saja menghabiskan waktu liburnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Baginya liburan tersebut sangat mengesankan. "Kita tuh butuh banget refreshing. Keluar dari suasana Jakarta yang rame banget" ceritanya dengan bersemangat. Walaupun di Lombok hanya duduk-duduk di pantai dan berbincang-bincang dengan teman kegiatan tersebut dapat membuatnya terkesan dengan suasana Lombok. "Lombok itu punya suasana alam yang udah jelas beda banget sama Jakarta, pantainya masih bersih" lanjutnya. Beda halnya dengan pantai yang ada di Jakarta, Ancol. Baginya, Ancol itu sudah rapih, namun untuk bisa menikmatinya harus membayar tiket masuk sedangkan di Lombok ia bebas ingin ke pantai mana saja. Selain itu, Ancol juga sudah tidak seperti pantai baginya, karena banyaknya bangunan-bangunan tinggi disekitar Ancol sehingga kesan pantai pun sudah mulai hilang.

A Man of Leisure No. 5 #JakartaReposeProject


Sharief Rafdi yang biasa dipanggil Rafdi ini sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan perkuliahan merasa waktu luang dimilikinya tidak banyak. Tugas-tugas dan kegiatan yang mengharus ia aktif di kampus membuatnya pikirannya penat. Baginya, hari Jumat merupakan hari dimana ia memiliki waktu luang yang cukup banyak, namun pada hari itu ia pun tetap harus kembali ke kampus untuk bertemu teman-teman kuliah sambil mengerjakan tugas bersama. Tidak hanya kegiatan kampus, di hari lain pun, ia disibukkan dengan kegiatan yang membantu Ayahnya. "Sebenernya pingin punya waktu luang yang banyak, tapi kalo pun ada pasti gue bantuin bokap gue. Kalo dia enggak enggak bisa ke luar kota ya gue gantiin dia ke luar kota" jelasnya sambil merokok.

Pria yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan ini mengatakan bahwa waktu luang itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin walaupun waktunya sedikit tapi kalau bisa dimanfaatkan sebaik mungkin pasti akan bermanfaat. "Kalo pas lagi pergantian jam mata kuliah nih, pasti kan ada waktu istirahatnya, ya gue pake buat ke kantin atau enggak cafe, ya minum doang atau enggak ngobrol-ngobrol sama temen, cukup lah buat ngilangin rasa penat pas kuliah sebelomnya" tuturnya.

Pada saat memiliki waktu luang yang banyak, pria berumur 20 tahun ini sering menghabiskan waktu luangnya dengan bermain futsal. Bermain futsal merupakan hobbinya sejak kecil. Baginya bermain futsal itu sangat bermanfaat. "Main futsal cuman 2 jam aja udah bermanfaat banget, pertama kita keringetan, jelas badan kita jadi sehat, terus juga ya ketemu temen, otomatis kita kan berinteraksi sama mereka. Main futsal mah santai aja, enggak usah dibawa serius" cerita Rafdi dengan semangat. Baginya, menghabsikan waktu luang itu bersama dengan teman atau bisa juga sendirian. Ia bersama temennya sering bermain futsal di Citos atau di Depok. Alasan tersebut karena denkat dengan kampus. Jadi bisa menghemat pengeluarannya seperti bensi dan bayar parkir Mal. Bagi mahasiswa semester 5 ini, pada saat tim futsalnya menang baik pada saat mengikuti kejuaraan atau hanya latihan adalah suatu kebanggan baginya. "Ya kalo menang tuh ada kebanggaan sendiri aja" ceritanya. Namun, di sisi lain, pada saat ia baru sembuh dari sakitnya dan memaksakan diri untuk latihan futsal dengan temannya, hasilnya main futsalnya jelek. Hal tersebut merupakan pengalaman yang memalukan baginya. "Malu banget deh, udah mainnya jelek, malu-maulin diri sendiri sama tim" katanya.

Saat bersama teman-temannya, mahasiswa Universitas Indonesia ini, pada saat berkumpul dengan temannya lebih sering di kampus. Alasannya karena terkadang jadwal mereka yang tidak sama sehingga apabila mereka harus pergi keluar kampus akan menghabiskan waktu di jalan dan yang pasti mengeluarkan biaya parkir lagi. Kemudiania menjelaskan bahwa jika ia harus ke luar kampus dan harus kembali lagi ke kampus harus mencari parkir lagi sedangkan jumlah mahasiswa yang makin banyak sehingga lahan parkir menjadi sedikit. "Kan gue bawa mobil, tadi aja mau cari parkir susah banget, jadi udah paling enak emang kalo pas lagi ada kuliah ngumpul sama temen itu ya di kampus, biar enggak ngeluarin bensin terus enggak usah cari-cari parkir lagi" jelasnya sambil meminum ice coffee latte pesanannya.

Pada masa-masa memasuki jenjang perkuliahan, Rafdi dan teman-temannya memiliki kegiatan setiap bulannya yaitu mendatangi tempat dugem. "Dulu pas masih awal-awal masuk kuliah gitu, namanya juga penasaran kan" ceritanya. Namun saat ini, ia sudah tidak pernah kesana lagi karena beberapa faktor. Yang pertama karena baginya di tempat tersebut tidak ada manfaatnya. "Enggak ada manfaatnya, kesana cuman mabok terus liat orang mabok" ceritanya dengan seru. 

Bagi pria yang besar di Jakarta, saat ini Mal memang menjadi salah satu tujuannya saat berkumpul dengan teman-temannya. "Di Mal itu banyak pilihannya, disana tinggal pilih mau makan dimana, mau minum-minum dimana" ungkapnya. Namun, karena Mal terlalu banyak di Jakarta, ia hanya mengunjungi Mal-Mal yang dekat dengan rumahnya atau dekat kampusnya. "Mal udah banyak banget tapi gue paling cuman ke Mal itu lagi itu lagi" ceritanya. Karena banyaknya Mal juga membuat jalan di Jakarta macet. "Orang jakarta tuh ngabisin waktu luangnya di jalanan!" tegasnya dengan sedikit tertawa. Namun hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan kendaraan umum, tetapi bagi Rafdi kendaraan umum di Jakarta belum memadai maka dari itumasih banyak warga Jakarta yang masih menggunakan kendaraan pribadinya. 

Friday, 26 September 2014

A Man of Leisure No. 4 #JakartaReposeProject



Dikesibukannya di hari kerja, tidak membuatnya merasa lelah untuk melakukan salah satu hobbinya yaitu bermain golf. Utiek Abdurrachman yang biasa dipanggil dengan Utiek ini sudah menggeluti golf dari tahun 2000. Setiap minggunya pasti ia dengan teman satu groupnya selalu latihan golf. Karena ketekunannya, pada tahun 2001, ia mendapatkan juara pada Indonesia Amateur Master. "Waktu itu ikut karena diajak pelatih saya untuk ikut karena dia lihat main saya yang konsisten dan berpotensial jadi juara" ceritanya. Tidak hanya memenangkan Indonesia Amateur Master, ia juga sering memenangi turnament dan yang paling mengesankan bagi wanita berumur 53 tahun ini adalah pada saat ia melakukan hole in one.

 Menurut Ibu Utiek, olah raga gol adalah olah raga yang melatih ia dalam mengontrol diri sendiri. "Yang kita lawan adalah diri sendiri. Bukan teman kita. Semakin tidak bisa nguasain emosi kita, main kita semakin jelek. Makin kita mau ngalahin orang lain, main kita makin jelek. Tapi pada saat mainnya relax, kita main apa adanya, enggak mikirin orang lain, enggak mikirin musuh, malah mainnya bagus" jelasnya.


Wanita yang sudah memiliki satu orang anak ini, selain berolah raga, juga sering berkumpul dengan teman seprofesi dan teman-teman alumni semasa kuliah dan SMA. Makan dan saling bertukang pendapat merupakan kegiatan yang biasa ia lakukan saat berkumpul. Namun, satu hal berbeda dari kegiatan antara teman seprofesi dan teman alumninya adalah ia cukup sering tour dan mengikuti kongres dan seminar dengan teman seprofesinya sedangkan dengan teman alumni, mereka suka memnonton konser jazz seperti JakJazz dan Java Jazz.

Ibu notaris ini merasa, tempat umum seperti taman kota di Jakarta sudah mulai berkembang. Seperti di Barito, depan Mal Taman Anggrek, Blok M dan Pluit. Namun, hal tersebut masih belum sebanding dengan maraknya Mal-Mal yang ada di Jakarta. "Mal di Jakarta terlalu banyak dan tempatnya berdekatan terus kurang diatur tata ruangnya, jadi sering mengakibatkan flow lalu lintas yang terhambat" jelasnya. Hal tersebut didukung dengan kesenangan masyarakat Jakarta yang memang sering menghabiskan waktu luangnya dengan berbelanja karena stress dengan pekerjaan dan lingkungannya. Baginya, jika memang ingin membuat Mal yang banyak, Jakarta bisa mencontoh negara-negara maju. "Kalo di negara maju, Mal itu satu komplek. Macem-macem disitu ada JC Penny, Boston, Sear. Ada 4 Mal sekaligus, jadi orang enak. Kita mau kemana aja jadi satu disitu" jelasnya.

Bagi Ibu Utiek, saat ini sarana yang belum ada di Jakarta adalah taman. "Kalo yang saya lihat itu yang kayak di Amerika, Australi, taman rumput gitu aja, tapi di taman itu sediakan fasilitas untuk minum umum, kemudian tempat buang sampah, tempat untuk istirahat kayak tempat duduk, jadi orang tuh bisa main, bisa makan, bisa piknik disitu, bahkan ada kamar mandi umummnya juga" jelasnya dan tempat tersebut harus ada di setiap komunitas perumahan.

Thursday, 25 September 2014

A Man of Leisure No. 3 #JakartaReposeProject



Armedya Dewangga adalah seorang creative marketing. Pria yang memiliki hobbi membaca ini menganggap waktu luang adalah waktu dimana bisa mengerjakan apa hobbi, kesukaan diri sendiri, atau sekedar waktu untuk quality time diri sendiri dalam arti lain untuk menyenangkan diri sendiri.

Pria berumur 23 tahun ini merasa dengan bersepedahan dan berolah raga merupakan quality time yang ia miliki. Baginya, pada saat ia bisa menembus batas limit tubuhnya dalam olah raga merupakan salah satu pengalaman yang mengesankan baginya. Menurutnya, bersepedah di Jakarta merupakan sebuah tantangan yang seru "Misalnya nih macet pasti kita kan harus bisa selap selip, bagi-bagi jalan sama orang, nah kalo sepeda tuh bisa naik-naik trotoar, bahkan bisa sampe lawan arah, dan yang namanya sepeda tuh bebas dijalan, dan enggak tersentuh dengan hukum jalan, tapi tetep tanggung jawab diri sendiri" jelasnya. 

Pria lulusan Institut Teknologi Bandung ini, merasa sarana umum untuk berolah raga di Bandung lebih banyak di bandingkan dengan di Jakarta. Apalagi semenjak Bapak Ridwan Kamil mau meningkatkan index of happinessnya orang Bandung, makanya banyak di bangun Taman-taman kota, organisai kreatif, dll. Seperti contohnya taman kota bdg, disana orang bisa menyewa sepeda. Bahkan yang ngebedain Bandung itu, kalo di Dago, di trotoar itu ada jalur sepeda. Menurutnya, untuk sarana umum jauh lebih bagus Bandung karena Bandung lebih terintegrasi dan lebih enak dibandingkan dengan Jakarta. 

Bagi pria yang bertempat tinggal di Cibubur, Jakarta Timur ini memiliki pengalaman yang tidak dapat terlupakan baginya pada saat ia dan teman-teman kampusnya berjalan-jalan ala backpacker ke Gunung Bromo dan Lombok pada saat semester akhir perkuliahan. "Sebelum tugas akhir kita harus liburan bareng nih. Akhirnya ada temen yang bilang yaudah ke Bromo aja besok. Terus enggak ada dana karena H-1 banget. Malemnya langsung cari tiket. Itu beneran kita enggak ada planning, cuman tau beli darisini ke Malang, dari Malang ke Bromo. Tiba-tiba di Bromo pun mikir, ini apa lanjur aja ya ke Lombok. Dan akhirnya beneran ke Lombok. Yang paling keren disitu, kita cuman ngeluarin duit 1 juta untuk bolak-balik" ceritanya.

Menurutnya, Jakarta  memiliki taman yang lebih beragam dan modern tetapi Bandung memiliki taman yang lebih rapih. "Sebenernya Jakarta sangat punya banyak lahan kosong buat dijadiin taman dan misalkan pun udah ada, mungkin yang perlu di perbaikin itu adalah mental orang-orang itu sendiri" tuturnya. 

Saturday, 20 September 2014

A Man of Leisure No.2 #JakartaReposeProject



Monik Ediana Miranda adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta yang saat ini sedang mengambil gelar spesialis. Menurutnya waktu luang adalah waktu dimana tidak ada kerjaan. Namun, pada saat sedang tidak ada kuliah baginya bukanlah waktu luang, karena waktu-waktu dimana tidak ada kuliah, ia sibukkan dengan mengerjakan tugas kuliah. Hal yang paling sering ia lakukan pada saat waktu luang adalah beristirahat dan mengerjakannya hobbinya seperti membaca dan menonton pertunjukan atau show.

Bagi wanita yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan, waktu luang pada saat ia sedang menjalankan profesinya sebagai dokter dan mahasiswa berbeda. Saat ini, aktifitas-aktifitas yang ia kerjakan pada waktu luang biasa ia lakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan, pada saat ia berprofesi sebagai dokter, Sabtu dan Minggu bukanlah hari dimana ia biasa beristirahat atau melakukan hobbi-hobbinya karena adanya shift kerja.

Wanita berumur 30 tahun ini merasa pentingnya memiliki waktu luang. Jatah cuti merupakan salah satu cara bagi dr. Monik untuk dapat beristirahat. “Apalagi kalo kita capek. Terus kita kerja berhubungan dengan nyawa seseorang. Nanti kalo misalnya capek terus salah ngobatin, bisa gawat” tuturnya.

Menurutnya tempat yang praktis untuk menghabiskan waktu luang adalah Mal karena di Mal sudah bisa mendapatkan semuanya seperti belanja dan makan. Seperti berkumpul dengan teman lama, ia sering berkumpul di Mal. Namun, apabila ada acara seperti ada acara ulang tahun anak dari temannya, maka ia dan teman-temannya berkumpul di acara tersebut. “Meminimalisir pengeluaran lah” jelasnya. 

Wanita yang biasa dipanggil dengan panggilan Monik ini merasa suasana merupakan salah satu faktor yang dicari oleh masyarakat Indonesia terutama Jakarta dalam menghabiskan waktu luangnya. Baginya, apabila orang Jakarta berlibur ke luar Jakarta seperti Bandung pasti ada alasan yang mendukung mereka untuk pergi kesana seperti contohnya suasana. Menurutnya, suasa di Bandung dan Jakarta berbeda. "Ada nih restorang yang buka cabang disini. Pas kita cobain, enggak ah. Jadi kayak biasa aja. Kok enakan makan disana" jelasnya. Selain itu, waktu. Waktu juga merupakan salah satu faktor. "Kalau waktunya cuman sedikit ya perginya enggak jauh-jauh" tuturnya.

Wanita yang sedang mengambil spesialis patalogi anatomi ini, mengatakan bahwa bertemu orang baru seperti di kereta atau Transjakarta merupakan pengalaman yang mengesankan. "Waktu kemaren naik kereta desek-desekan banget, sementara kita bawa bawaan banyak lah. Jadi aku mau ke pintu, masih jauh, jadi ada orang bawain barang terus aku di dorong dari belakang. Jadi barangku dibawain operan gitu." ceritanya. Menurutnya, ia tidak memiliki pengalaman yang menyebalkan karena pasti ada sesuatu yang menarik untuk diingat kembali.

Bagi wanita yang hobbi membaca ini, tempat untuk membaca di Jakarta susah di temui. "Paling dimana? Perpus?" tanya nya. Baginya di Jakarta untuk berpindah-pindah ke satu tempat ke yang tempat lain untuk aktifitas yang berbeda sudah menghabiskan waktu. Maka ia memerlukan tempat dimana ia bisa melakukan keselurahan aktifitas di waktu luangnya di satu tempat. "Jadi dulu waktu kuliah di Bandung. Kalo nongkrong disini. Kalo mau makan di sebelahnya. Jadi deket gitu" jelasnya.