Showing posts with label PROJECT. Show all posts
Showing posts with label PROJECT. Show all posts

Monday, 29 September 2014

A Man of Leisure No. 8 #JakartaReposeProject


Pria yang sudah 7 tahun tidak bekerja kantoran ini biasa menghabiskan waktu luangnya berolahraga. Olahraga yang sering ia lakukan adalah tennis. "Kebetulan rumah saya deket nih sama lapangan tennis, jadi udah rutinitas setiap pagi main tennis" jelasnya. Bukan hanya karena rumahnya saja yang dekat dengan lapangan tennis, namun pada saat masih bekerja pun ia bersama teman-teman instasinya atau teman-teman klub tennis sudah sering berolah raga. Baginya pengalaman yang paling mengesankan pada saat melakukan hobbinya tersebut adalah pada saat memenangkan pertandingan karena baginya di dalam pertandingan tersebut ada kebersamaan dan kekompakkan yang tidak bisa tergantingan dengan apapun.

Pria yang sudah memiliki tiga anak ini, biasa menghabiskan waktu luangnya pada hari sabtu minggu ke tempat renang seperti di Citos, Gelanggang Olah Raga di Jakarta Timur dan Gelanggang Remaja di Ragunan. "Karena anak saya yang paling kecil itu suka banget main air, saya juga hobbi sih berenang" jelas Bapak Udin sambil mengunyah cemilan yang disediakan. Selain itu, ia juga cukup sering ke Mal untuk berbelanja atau mencari hiburan saja. Walaupun tidak selalu Mal dengan alasan bahwa jika di Mal ia lebih konsumtif dan ada pandangan-pandangan di agamanya yang bisa merusak imannya.

Bagi pria yang tingal di Jakarta Selatan ini merasa waktu luang yang ia habiskan dengan keluarganya ia gunakan untuk menghilangkan rasa jenuh istrinya dan anaknya. "soalnya istri dari senin sampai jumat, kegiatannya hanya dapur, urus anak" jelasnya. Dengan mengajak istri dan anaknya pergi ke tempat rekreasi sudah memberikan kebahagian bagi dirinya sendiri beserta anak dan istrinya. 

Menurutnya maraknya pembangunan Mal di Jakarta, kasihan pasar tradisionalnya. Ia memberikan contoh Mal yang dekat dengan rumahnya yaitu Pejaten Village. "Itu kan Pejaten Village berdekatan dengan Pasar Minggu jadi berpengaruh" jelas Bapak Udin. Kelebihan Mal yang nyaman dengan penyejuk ruangan dan semua harga nett tidak ada tawar menawar. "Saya lebih seneng belanja di Mal di banding di Pasar Tradisional, soalnya saya enggak bisa nawar" ceritanya dengan tertawa. Baginya kedua tempat tersebut ada kelebihan dan keunikannya masing-masing.

"PRJ yang sekarang udah seperti Mal" ungkap pria asli betawi ini. Baginya PRJ atau Pekan Raya Jakarta merupakan ulang tahun suku betawi. Namun perayaan tersebut sudah seperti pada saat dulu ia mengunjungi PRJ. Baginya PRJ saat ini sudah seperti Mal karena sudah tidak ada hiburan rakyatnya, pertunjukan budaya-budaya jakartanya. Saat ini, yang ia lihat hanya diisi dengan pameran motor, mobil sampai jualan ban. Sudah tidak ada unsur pendidikannya. Pendapat Bapak Udin, begitu biasa ia di panggil, dulu banyak penampilan tarian daerah dan makanan khas betawi. Beberapa penjelasan diatas merupakan alasan-alasan mengapa Bapak Udin sudah tidak pernah lagi mengunjungi Jakarta Fair.

Bagi pria yang rata-rata pengeluarannya 400 ribu ini tempat rekreasi yang murah meriah merupakan pilihan utamanya untuk menghabiskan waktu luang dengan keluarga kecilnya. Tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu-waktunya adalah Kebun Binatang Ragunan. "Ragunan kalo bukan liburan hari raya atau libur anak sekolah itu enak banget buat main bola. Kalo disana saya enggak jajan dek, saya bawa makanan dirumah, gelar tiker. Kenikmatannya disitu" ceritanya. Selain itu, KB Ragunan juga mengalami peningkatan dari segi fasilitas-fasilitasnya. Sekarang bisa sepedahan, ada penyewa sepedanya juga. Namun di balik fasilitas-fasilitasnya yang lebih baik, perawatan di binatangnya malah semakin menurun. "Saya kurang tau sih apa karena makanannya yang mahal atau apa, tapi kasian liat binatang-binatangnya seperti kurang terurus" jelas Bapak Udin.

Saturday, 27 September 2014

A Man of Leisure No. 6 #JakartaReposeProject


Waktu luang merupakan waktu buat diri lo sendiri merupakan pendapat Sebastian, mahasiswa Universitas Indonesia. Setiap harinya ia selalu pergi ke tempat gym pada saat tidak ada jadwal kuliah  atau selesai jam kampus. Walaupun waktu yang dimilikinya sebagai mahasiswa tidak banyak karena kesibukan-kesibukannya seperti mengerjakan tugas kampus aktif di kegiatan kampus tidak membuatnya untuk meninggalkan hobbinya tersebut. "Gue tuh dari kecil emang udah suka olah raga, jadi kalo sehari enggak ada olah raganya tuh jadi kayak ada yang kurang" ceritanya. Baginya dengan nge-gym tidak hanya menyegarkan badannya saja tapi juga menyegarkan fikirannya dari kegiatan-kegiatan kampus yang baginya harus dikurangi.

Bagi pria berumur 21tahun ini, tidak suka suasana yang bising dan ramai. Sehingga ia tidak begitu menyukai Mal. "Gue lebih prefer tempat yang sepi, jadi bisa gue abisin buat diri gue sendiri ya contohnya tempat gym". Atas alasan itulah, ia selalu mengunjungi tempat gym yang berada di luar Mal. Begitu juga pada saat ia sedang menghabiskan waktu luangnya dengan teman-temannya, ia lebih suka menghabiskannya di Cafe atau Bar. "Kalo ketemu temen ngapain sih? Palingan cuman ngobrol, makan minum, udah. Itu aja palingan kegiatannya" jelasnya.

Menurut pria yang bertempat tinggal di Jakarta Pusat ini, Jarak dari rumahnya ke kampus cukup jauh. Ditambah lagi dengan kemacetan yang ada di Ibu Kota Jakarta menambah waktu yang harus ditempuhnya semakin lama. "Sekarang dimana-mana macet. Ya orang jakarta ngabisin waktunya kalo enggak di jalan ya di Mal" pendapatnya. Karena kemacetan tersebutlah yang membuat orang Jakarta menghabiskan waktu luangnya di Mal karena apa yang mereka perlukan, inginkan, ada semua di Mal. "Hiburannya ya cuman Mal" kata Sebastian.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi ini baru saja menghabiskan waktu liburnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Baginya liburan tersebut sangat mengesankan. "Kita tuh butuh banget refreshing. Keluar dari suasana Jakarta yang rame banget" ceritanya dengan bersemangat. Walaupun di Lombok hanya duduk-duduk di pantai dan berbincang-bincang dengan teman kegiatan tersebut dapat membuatnya terkesan dengan suasana Lombok. "Lombok itu punya suasana alam yang udah jelas beda banget sama Jakarta, pantainya masih bersih" lanjutnya. Beda halnya dengan pantai yang ada di Jakarta, Ancol. Baginya, Ancol itu sudah rapih, namun untuk bisa menikmatinya harus membayar tiket masuk sedangkan di Lombok ia bebas ingin ke pantai mana saja. Selain itu, Ancol juga sudah tidak seperti pantai baginya, karena banyaknya bangunan-bangunan tinggi disekitar Ancol sehingga kesan pantai pun sudah mulai hilang.

A Man of Leisure No. 5 #JakartaReposeProject


Sharief Rafdi yang biasa dipanggil Rafdi ini sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan perkuliahan merasa waktu luang dimilikinya tidak banyak. Tugas-tugas dan kegiatan yang mengharus ia aktif di kampus membuatnya pikirannya penat. Baginya, hari Jumat merupakan hari dimana ia memiliki waktu luang yang cukup banyak, namun pada hari itu ia pun tetap harus kembali ke kampus untuk bertemu teman-teman kuliah sambil mengerjakan tugas bersama. Tidak hanya kegiatan kampus, di hari lain pun, ia disibukkan dengan kegiatan yang membantu Ayahnya. "Sebenernya pingin punya waktu luang yang banyak, tapi kalo pun ada pasti gue bantuin bokap gue. Kalo dia enggak enggak bisa ke luar kota ya gue gantiin dia ke luar kota" jelasnya sambil merokok.

Pria yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan ini mengatakan bahwa waktu luang itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin walaupun waktunya sedikit tapi kalau bisa dimanfaatkan sebaik mungkin pasti akan bermanfaat. "Kalo pas lagi pergantian jam mata kuliah nih, pasti kan ada waktu istirahatnya, ya gue pake buat ke kantin atau enggak cafe, ya minum doang atau enggak ngobrol-ngobrol sama temen, cukup lah buat ngilangin rasa penat pas kuliah sebelomnya" tuturnya.

Pada saat memiliki waktu luang yang banyak, pria berumur 20 tahun ini sering menghabiskan waktu luangnya dengan bermain futsal. Bermain futsal merupakan hobbinya sejak kecil. Baginya bermain futsal itu sangat bermanfaat. "Main futsal cuman 2 jam aja udah bermanfaat banget, pertama kita keringetan, jelas badan kita jadi sehat, terus juga ya ketemu temen, otomatis kita kan berinteraksi sama mereka. Main futsal mah santai aja, enggak usah dibawa serius" cerita Rafdi dengan semangat. Baginya, menghabsikan waktu luang itu bersama dengan teman atau bisa juga sendirian. Ia bersama temennya sering bermain futsal di Citos atau di Depok. Alasan tersebut karena denkat dengan kampus. Jadi bisa menghemat pengeluarannya seperti bensi dan bayar parkir Mal. Bagi mahasiswa semester 5 ini, pada saat tim futsalnya menang baik pada saat mengikuti kejuaraan atau hanya latihan adalah suatu kebanggan baginya. "Ya kalo menang tuh ada kebanggaan sendiri aja" ceritanya. Namun, di sisi lain, pada saat ia baru sembuh dari sakitnya dan memaksakan diri untuk latihan futsal dengan temannya, hasilnya main futsalnya jelek. Hal tersebut merupakan pengalaman yang memalukan baginya. "Malu banget deh, udah mainnya jelek, malu-maulin diri sendiri sama tim" katanya.

Saat bersama teman-temannya, mahasiswa Universitas Indonesia ini, pada saat berkumpul dengan temannya lebih sering di kampus. Alasannya karena terkadang jadwal mereka yang tidak sama sehingga apabila mereka harus pergi keluar kampus akan menghabiskan waktu di jalan dan yang pasti mengeluarkan biaya parkir lagi. Kemudiania menjelaskan bahwa jika ia harus ke luar kampus dan harus kembali lagi ke kampus harus mencari parkir lagi sedangkan jumlah mahasiswa yang makin banyak sehingga lahan parkir menjadi sedikit. "Kan gue bawa mobil, tadi aja mau cari parkir susah banget, jadi udah paling enak emang kalo pas lagi ada kuliah ngumpul sama temen itu ya di kampus, biar enggak ngeluarin bensin terus enggak usah cari-cari parkir lagi" jelasnya sambil meminum ice coffee latte pesanannya.

Pada masa-masa memasuki jenjang perkuliahan, Rafdi dan teman-temannya memiliki kegiatan setiap bulannya yaitu mendatangi tempat dugem. "Dulu pas masih awal-awal masuk kuliah gitu, namanya juga penasaran kan" ceritanya. Namun saat ini, ia sudah tidak pernah kesana lagi karena beberapa faktor. Yang pertama karena baginya di tempat tersebut tidak ada manfaatnya. "Enggak ada manfaatnya, kesana cuman mabok terus liat orang mabok" ceritanya dengan seru. 

Bagi pria yang besar di Jakarta, saat ini Mal memang menjadi salah satu tujuannya saat berkumpul dengan teman-temannya. "Di Mal itu banyak pilihannya, disana tinggal pilih mau makan dimana, mau minum-minum dimana" ungkapnya. Namun, karena Mal terlalu banyak di Jakarta, ia hanya mengunjungi Mal-Mal yang dekat dengan rumahnya atau dekat kampusnya. "Mal udah banyak banget tapi gue paling cuman ke Mal itu lagi itu lagi" ceritanya. Karena banyaknya Mal juga membuat jalan di Jakarta macet. "Orang jakarta tuh ngabisin waktu luangnya di jalanan!" tegasnya dengan sedikit tertawa. Namun hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan kendaraan umum, tetapi bagi Rafdi kendaraan umum di Jakarta belum memadai maka dari itumasih banyak warga Jakarta yang masih menggunakan kendaraan pribadinya. 

Friday, 26 September 2014

A Man of Leisure No. 4 #JakartaReposeProject



Dikesibukannya di hari kerja, tidak membuatnya merasa lelah untuk melakukan salah satu hobbinya yaitu bermain golf. Utiek Abdurrachman yang biasa dipanggil dengan Utiek ini sudah menggeluti golf dari tahun 2000. Setiap minggunya pasti ia dengan teman satu groupnya selalu latihan golf. Karena ketekunannya, pada tahun 2001, ia mendapatkan juara pada Indonesia Amateur Master. "Waktu itu ikut karena diajak pelatih saya untuk ikut karena dia lihat main saya yang konsisten dan berpotensial jadi juara" ceritanya. Tidak hanya memenangkan Indonesia Amateur Master, ia juga sering memenangi turnament dan yang paling mengesankan bagi wanita berumur 53 tahun ini adalah pada saat ia melakukan hole in one.

 Menurut Ibu Utiek, olah raga gol adalah olah raga yang melatih ia dalam mengontrol diri sendiri. "Yang kita lawan adalah diri sendiri. Bukan teman kita. Semakin tidak bisa nguasain emosi kita, main kita semakin jelek. Makin kita mau ngalahin orang lain, main kita makin jelek. Tapi pada saat mainnya relax, kita main apa adanya, enggak mikirin orang lain, enggak mikirin musuh, malah mainnya bagus" jelasnya.


Wanita yang sudah memiliki satu orang anak ini, selain berolah raga, juga sering berkumpul dengan teman seprofesi dan teman-teman alumni semasa kuliah dan SMA. Makan dan saling bertukang pendapat merupakan kegiatan yang biasa ia lakukan saat berkumpul. Namun, satu hal berbeda dari kegiatan antara teman seprofesi dan teman alumninya adalah ia cukup sering tour dan mengikuti kongres dan seminar dengan teman seprofesinya sedangkan dengan teman alumni, mereka suka memnonton konser jazz seperti JakJazz dan Java Jazz.

Ibu notaris ini merasa, tempat umum seperti taman kota di Jakarta sudah mulai berkembang. Seperti di Barito, depan Mal Taman Anggrek, Blok M dan Pluit. Namun, hal tersebut masih belum sebanding dengan maraknya Mal-Mal yang ada di Jakarta. "Mal di Jakarta terlalu banyak dan tempatnya berdekatan terus kurang diatur tata ruangnya, jadi sering mengakibatkan flow lalu lintas yang terhambat" jelasnya. Hal tersebut didukung dengan kesenangan masyarakat Jakarta yang memang sering menghabiskan waktu luangnya dengan berbelanja karena stress dengan pekerjaan dan lingkungannya. Baginya, jika memang ingin membuat Mal yang banyak, Jakarta bisa mencontoh negara-negara maju. "Kalo di negara maju, Mal itu satu komplek. Macem-macem disitu ada JC Penny, Boston, Sear. Ada 4 Mal sekaligus, jadi orang enak. Kita mau kemana aja jadi satu disitu" jelasnya.

Bagi Ibu Utiek, saat ini sarana yang belum ada di Jakarta adalah taman. "Kalo yang saya lihat itu yang kayak di Amerika, Australi, taman rumput gitu aja, tapi di taman itu sediakan fasilitas untuk minum umum, kemudian tempat buang sampah, tempat untuk istirahat kayak tempat duduk, jadi orang tuh bisa main, bisa makan, bisa piknik disitu, bahkan ada kamar mandi umummnya juga" jelasnya dan tempat tersebut harus ada di setiap komunitas perumahan.

Thursday, 25 September 2014

A Man of Leisure No. 3 #JakartaReposeProject



Armedya Dewangga adalah seorang creative marketing. Pria yang memiliki hobbi membaca ini menganggap waktu luang adalah waktu dimana bisa mengerjakan apa hobbi, kesukaan diri sendiri, atau sekedar waktu untuk quality time diri sendiri dalam arti lain untuk menyenangkan diri sendiri.

Pria berumur 23 tahun ini merasa dengan bersepedahan dan berolah raga merupakan quality time yang ia miliki. Baginya, pada saat ia bisa menembus batas limit tubuhnya dalam olah raga merupakan salah satu pengalaman yang mengesankan baginya. Menurutnya, bersepedah di Jakarta merupakan sebuah tantangan yang seru "Misalnya nih macet pasti kita kan harus bisa selap selip, bagi-bagi jalan sama orang, nah kalo sepeda tuh bisa naik-naik trotoar, bahkan bisa sampe lawan arah, dan yang namanya sepeda tuh bebas dijalan, dan enggak tersentuh dengan hukum jalan, tapi tetep tanggung jawab diri sendiri" jelasnya. 

Pria lulusan Institut Teknologi Bandung ini, merasa sarana umum untuk berolah raga di Bandung lebih banyak di bandingkan dengan di Jakarta. Apalagi semenjak Bapak Ridwan Kamil mau meningkatkan index of happinessnya orang Bandung, makanya banyak di bangun Taman-taman kota, organisai kreatif, dll. Seperti contohnya taman kota bdg, disana orang bisa menyewa sepeda. Bahkan yang ngebedain Bandung itu, kalo di Dago, di trotoar itu ada jalur sepeda. Menurutnya, untuk sarana umum jauh lebih bagus Bandung karena Bandung lebih terintegrasi dan lebih enak dibandingkan dengan Jakarta. 

Bagi pria yang bertempat tinggal di Cibubur, Jakarta Timur ini memiliki pengalaman yang tidak dapat terlupakan baginya pada saat ia dan teman-teman kampusnya berjalan-jalan ala backpacker ke Gunung Bromo dan Lombok pada saat semester akhir perkuliahan. "Sebelum tugas akhir kita harus liburan bareng nih. Akhirnya ada temen yang bilang yaudah ke Bromo aja besok. Terus enggak ada dana karena H-1 banget. Malemnya langsung cari tiket. Itu beneran kita enggak ada planning, cuman tau beli darisini ke Malang, dari Malang ke Bromo. Tiba-tiba di Bromo pun mikir, ini apa lanjur aja ya ke Lombok. Dan akhirnya beneran ke Lombok. Yang paling keren disitu, kita cuman ngeluarin duit 1 juta untuk bolak-balik" ceritanya.

Menurutnya, Jakarta  memiliki taman yang lebih beragam dan modern tetapi Bandung memiliki taman yang lebih rapih. "Sebenernya Jakarta sangat punya banyak lahan kosong buat dijadiin taman dan misalkan pun udah ada, mungkin yang perlu di perbaikin itu adalah mental orang-orang itu sendiri" tuturnya. 

Saturday, 20 September 2014

A Man of Leisure No.2 #JakartaReposeProject



Monik Ediana Miranda adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta yang saat ini sedang mengambil gelar spesialis. Menurutnya waktu luang adalah waktu dimana tidak ada kerjaan. Namun, pada saat sedang tidak ada kuliah baginya bukanlah waktu luang, karena waktu-waktu dimana tidak ada kuliah, ia sibukkan dengan mengerjakan tugas kuliah. Hal yang paling sering ia lakukan pada saat waktu luang adalah beristirahat dan mengerjakannya hobbinya seperti membaca dan menonton pertunjukan atau show.

Bagi wanita yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan, waktu luang pada saat ia sedang menjalankan profesinya sebagai dokter dan mahasiswa berbeda. Saat ini, aktifitas-aktifitas yang ia kerjakan pada waktu luang biasa ia lakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan, pada saat ia berprofesi sebagai dokter, Sabtu dan Minggu bukanlah hari dimana ia biasa beristirahat atau melakukan hobbi-hobbinya karena adanya shift kerja.

Wanita berumur 30 tahun ini merasa pentingnya memiliki waktu luang. Jatah cuti merupakan salah satu cara bagi dr. Monik untuk dapat beristirahat. “Apalagi kalo kita capek. Terus kita kerja berhubungan dengan nyawa seseorang. Nanti kalo misalnya capek terus salah ngobatin, bisa gawat” tuturnya.

Menurutnya tempat yang praktis untuk menghabiskan waktu luang adalah Mal karena di Mal sudah bisa mendapatkan semuanya seperti belanja dan makan. Seperti berkumpul dengan teman lama, ia sering berkumpul di Mal. Namun, apabila ada acara seperti ada acara ulang tahun anak dari temannya, maka ia dan teman-temannya berkumpul di acara tersebut. “Meminimalisir pengeluaran lah” jelasnya. 

Wanita yang biasa dipanggil dengan panggilan Monik ini merasa suasana merupakan salah satu faktor yang dicari oleh masyarakat Indonesia terutama Jakarta dalam menghabiskan waktu luangnya. Baginya, apabila orang Jakarta berlibur ke luar Jakarta seperti Bandung pasti ada alasan yang mendukung mereka untuk pergi kesana seperti contohnya suasana. Menurutnya, suasa di Bandung dan Jakarta berbeda. "Ada nih restorang yang buka cabang disini. Pas kita cobain, enggak ah. Jadi kayak biasa aja. Kok enakan makan disana" jelasnya. Selain itu, waktu. Waktu juga merupakan salah satu faktor. "Kalau waktunya cuman sedikit ya perginya enggak jauh-jauh" tuturnya.

Wanita yang sedang mengambil spesialis patalogi anatomi ini, mengatakan bahwa bertemu orang baru seperti di kereta atau Transjakarta merupakan pengalaman yang mengesankan. "Waktu kemaren naik kereta desek-desekan banget, sementara kita bawa bawaan banyak lah. Jadi aku mau ke pintu, masih jauh, jadi ada orang bawain barang terus aku di dorong dari belakang. Jadi barangku dibawain operan gitu." ceritanya. Menurutnya, ia tidak memiliki pengalaman yang menyebalkan karena pasti ada sesuatu yang menarik untuk diingat kembali.

Bagi wanita yang hobbi membaca ini, tempat untuk membaca di Jakarta susah di temui. "Paling dimana? Perpus?" tanya nya. Baginya di Jakarta untuk berpindah-pindah ke satu tempat ke yang tempat lain untuk aktifitas yang berbeda sudah menghabiskan waktu. Maka ia memerlukan tempat dimana ia bisa melakukan keselurahan aktifitas di waktu luangnya di satu tempat. "Jadi dulu waktu kuliah di Bandung. Kalo nongkrong disini. Kalo mau makan di sebelahnya. Jadi deket gitu" jelasnya. 

Thursday, 18 September 2014

A Man of Leisure No.1 #JakartaReposeProject

  

Mirza Zahiruddin Akbar Susilo, biasa di panggil dengan Mirza ini waktu luang itu merupakan waktu dimana ia dapat menyalurkan hobbinya seperti mendengarkan musik, bermain scrabble, bermain basket, dan running beserta memperbaiki dirinya agar menjadi individu yang lebih. Pria yang tinggal di wilayah Jakarta Timur ini, biasa menghabiskan waktu luangnya sendiri dirumah atau bersama keluarganya. Menurutnya, waktu luang yang dilakukan bersama-sama dengan keluarganya lebih kebersamaan sedangkan waktu yang ia habiskan untuk dirinya sendiri lebih ke personal interest seperti bermain games, mencari musik-musik baru, dsb.

Pria berumur 23 tahun ini juga sering menghabiskan waktu luangnya di Bar atau Coffee Shop untuk mencoba minuman atau makanan dan menghabiskan waku bersama teman seperti membantu temannya apabila ada event yang akan dijalankan. Baginya, Mal bukan pilahan utama untuk berkumpul dengan teman dan keluarga. Karena baginya, teman dan keluarga lebih sering berkumpul di bar atau restoran.

Menurut pria yang rata-rata mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 2jt dalam sebulan ini, menggap bahwa Hari Sabtu dan Minggu merupakan waktu dimana ia sering menghabiskan waktu luangnya karena waktunya yang lebih banyak dan dapat melakukan aktifitas-aktifitas yang biasanya tidak ia lakukan pada hari lain seperti membaca korandan buku. Menurutnya, untuk mempunyai waktu luang itu sangat penting alasannya untuk melihat perspektif baru atau pemikiran baru pada titik dimana sudah tidak memiliki ide baru.

Berdasarkan pendapatnya, kualitas dari waktu luang itu sangat penting. "Soalnya kalo kuantitinya kebanyakan jadi males-malesan" tuturnya. Alasan mengapa ia mengatakan kualitas dibandingkan dengan kuantitas adalah dari pengalamannya pada saat kuliah. Dimana pada saat kuliah dulu, setiap mata kuliah ada break 10 menit dan setiap 10 menit itu boleh keluar dari kampus, ngerokok, ngopi, ngobrol-ngobrol, dsb sehingga ketika kembali ke kelas sudah dapat fokus dengan pelajaran lagi.

Pria yang pernah tinggal lama di Luar Negeri ini, mengatakan bahwa orang Jakarta lebih sering menghabiskan waktu luangnya di Mal karena jumlah Mal di Jakarta lebih banyak dibandingkan dengan tempat umumnya maka dari itu orang Jakarta lebih sering menghabiskan waktu luangnya di Mal. Namun disisi lain, menurutnya, tempat umum di Jakarta memang tidak memadai untuk dijadikan tempat menghabiskan waktu luang seperti di Luar Negeri. "Pertama, sarananya dan juga kayak cuacanya, cuaca juga mendukung, sarana dan juga kenyamanannya dan juga akses untuk kesananya" ungkapnya. Baginya, tempat umum di Jakarta bukan menjadi suatu rekomendasi untuk dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu luang karena polusi, cuaca yang terlalu terik sehingga tidak  (baik untuk kulit).

Berdasarkan pengalamannya tinggal di luar Indonesia, cara masyarakat Indonesia dan masyarakat dimana dulu ia pernah tinggal pada saat menghabiskan waktu luangnya berbeda. "Disana public places lebih banyak. Jadi kita enggak kena charge tempat. Misalkan disini kita makan di restoran kan kena service charge, sedangkan disana kalo sama temen-temen  barbecue di taman, kita cuman bayar apa yang kita mau makan" jelasnya.

Menurut pria lulusan European University di Montreux, Switzerland ini, pengalaman yang paling mengesankan adalah menonton konser band Coldplay di Zurich, Switzerland. Memang sudah keinginannya suatu hari untuk bisa nonton konser Coldplay namun tiba-tiba ada teman yang menawarkan tiket konser band tersebut dan kebetulan memang pingin akhirnya ia menonton band tersebut. "Kayak ke surga abis itu balik" katanya. Namun, apabila band Coldplay mengadakan konser di Jakarta, ia ragu-ragu untuk datang ke konser tersebut. Alasannya karena ia sudah dapat membayangkan pada saat konser selesai pasti akan macet. Sedangkan saat di Zurich, area sekitar tempat konser di block sehingga untuk kesana harus menggunakan tram (kereta dalam kota) sehingga pulang dan pergi lebih mudah.

Sedangkan pengalaman yang kurang mengesankan adalah ketika Mirza berkunjung ke Milan, Italia. Pada saat itu, ia ingin berfoto di depan salah satu gereja Cathedral. Namun, tiba-tiba, ada seseorang yang memberikannya makanan burung di tangannya. Tetapi, pada saaat ia sudah selesai berfoto orang tersebut meminta uang karena makanan burungnya sudah dimakan oleh burung-burung yang ada di sekitar gereja tersebut.

Menurut Mirza, tempat yang bagus untuk di kunjungi di Luar Jakarta namun tidak ada di Jakarta adalah Gili Trawangan. "Pulaunya emang pulang untuk turis. Dia enggak kayak bali. Kalo bali kan udah mulai kayak metropolitan. Udah banyak Mal. Kalo di Gili tuh mereka masih bergantung sama turis-turis jadi tempatnya kayak di sesuain sama interest orang-orang luar. Kayak pantai itu masih gratis. Kalo di Jakarta kan pantai harus bayar" jelasnya. 
#JAKARTAREPOSEPROJECT

Monumen Nasional, Jakarta. Captured by Zsa-Zsa Adani

Coming Soon.