Saturday, 20 September 2014

A Man of Leisure No.2 #JakartaReposeProject



Monik Ediana Miranda adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta yang saat ini sedang mengambil gelar spesialis. Menurutnya waktu luang adalah waktu dimana tidak ada kerjaan. Namun, pada saat sedang tidak ada kuliah baginya bukanlah waktu luang, karena waktu-waktu dimana tidak ada kuliah, ia sibukkan dengan mengerjakan tugas kuliah. Hal yang paling sering ia lakukan pada saat waktu luang adalah beristirahat dan mengerjakannya hobbinya seperti membaca dan menonton pertunjukan atau show.

Bagi wanita yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan, waktu luang pada saat ia sedang menjalankan profesinya sebagai dokter dan mahasiswa berbeda. Saat ini, aktifitas-aktifitas yang ia kerjakan pada waktu luang biasa ia lakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan, pada saat ia berprofesi sebagai dokter, Sabtu dan Minggu bukanlah hari dimana ia biasa beristirahat atau melakukan hobbi-hobbinya karena adanya shift kerja.

Wanita berumur 30 tahun ini merasa pentingnya memiliki waktu luang. Jatah cuti merupakan salah satu cara bagi dr. Monik untuk dapat beristirahat. “Apalagi kalo kita capek. Terus kita kerja berhubungan dengan nyawa seseorang. Nanti kalo misalnya capek terus salah ngobatin, bisa gawat” tuturnya.

Menurutnya tempat yang praktis untuk menghabiskan waktu luang adalah Mal karena di Mal sudah bisa mendapatkan semuanya seperti belanja dan makan. Seperti berkumpul dengan teman lama, ia sering berkumpul di Mal. Namun, apabila ada acara seperti ada acara ulang tahun anak dari temannya, maka ia dan teman-temannya berkumpul di acara tersebut. “Meminimalisir pengeluaran lah” jelasnya. 

Wanita yang biasa dipanggil dengan panggilan Monik ini merasa suasana merupakan salah satu faktor yang dicari oleh masyarakat Indonesia terutama Jakarta dalam menghabiskan waktu luangnya. Baginya, apabila orang Jakarta berlibur ke luar Jakarta seperti Bandung pasti ada alasan yang mendukung mereka untuk pergi kesana seperti contohnya suasana. Menurutnya, suasa di Bandung dan Jakarta berbeda. "Ada nih restorang yang buka cabang disini. Pas kita cobain, enggak ah. Jadi kayak biasa aja. Kok enakan makan disana" jelasnya. Selain itu, waktu. Waktu juga merupakan salah satu faktor. "Kalau waktunya cuman sedikit ya perginya enggak jauh-jauh" tuturnya.

Wanita yang sedang mengambil spesialis patalogi anatomi ini, mengatakan bahwa bertemu orang baru seperti di kereta atau Transjakarta merupakan pengalaman yang mengesankan. "Waktu kemaren naik kereta desek-desekan banget, sementara kita bawa bawaan banyak lah. Jadi aku mau ke pintu, masih jauh, jadi ada orang bawain barang terus aku di dorong dari belakang. Jadi barangku dibawain operan gitu." ceritanya. Menurutnya, ia tidak memiliki pengalaman yang menyebalkan karena pasti ada sesuatu yang menarik untuk diingat kembali.

Bagi wanita yang hobbi membaca ini, tempat untuk membaca di Jakarta susah di temui. "Paling dimana? Perpus?" tanya nya. Baginya di Jakarta untuk berpindah-pindah ke satu tempat ke yang tempat lain untuk aktifitas yang berbeda sudah menghabiskan waktu. Maka ia memerlukan tempat dimana ia bisa melakukan keselurahan aktifitas di waktu luangnya di satu tempat. "Jadi dulu waktu kuliah di Bandung. Kalo nongkrong disini. Kalo mau makan di sebelahnya. Jadi deket gitu" jelasnya. 

No comments:

Post a Comment